Menikmati Suasana Malam Hari Kota Prabumulih Ditemani Sepiring Nasi Uduk

PRABUMULIH,PRESTASIPOST.COM_Kota Prabumulih adalah kota kecil yang terkenal dengan sumber daya alamnya yang melimpah, minyak dan gas bumi salah satunya. kota yang baru berusia 17 tahun ini memberikan kesan tersendiri bagi pelancong ketika singgah dan beristirahat sejenak sambil melepas penat.
Senin, (23/09/2019)

Berjarak kurang lebih 120 Kilometer dari ibukota Provinsi Sumatera Selatan, Prabumulih memiliki beberapa makanan khas olahan buah nanas yang terkenal dengan sampai keluar daerah, nanas memang menjadi icon khas kota ini karena buah yang berwarna kuning ini sangat mudah di cari di pasar tradisional dan disepanjang jalan utama.

Selain nanas ada satu lagi makanan yang membuat nama kota ini menjadi lebih terkenal banyak orang mulai dari dalam daerah sumatera selatan sampai ke luar daerah. Makanan yang dimaksud ialah nasi uduk, kuliner Sederhana satu ini sangat sering kita jumpai dikehidupan sehari-hari digemari oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari kalangan atas hingga kalangan bawah.

Berwisata kuliner pada malam hari di Bumi Seinggok Sepemunyian sangat gampang di jumpai warung-warung yang menjual nasi uduk di pinggir jalan. Selain harganya yang murah nasi uduk yang di jual di kota prabumulih ini juga memiliki cirikhas rasa yang berbeda dengan tempat lain.

“Setiap kali pulang mudik ke Prabumulih saya selalu mengajak keluarga dan kerabat saya untuk mampir dan mencicipi nasi uduk yang ada di warung pinggir jalan, selain rasanya juga enak harganya juga sangat murah tidak membuat kantong jebol, disamping itu pelayannya juga sangat ramah,”kata pak hambali saat di wawancarai oleh prestasipost.com.

“Memang bukan makanan khas daerah Prabumulih tetapi nasi uduk menjadi saksi atas perkembangan kota yang hari jadinya pada 15 oktober 2001, konon nasi uduk ini sudah ada sejak 50 tahun yang silam, hanya saja lokasi tempat berjualannya yang berbeda kalau dulu ada di sekitar area Stasiun Kerta Api Prabumulih sekarang banyak di jumpai dipinggir jalan Jendral Sudirman, Alai Batu,” terang pak hambali.

Salah satu pemilik warung Rusmina menerangkan kepada wartawan prestasipost.com warung nasi uduk mulai buka saat malam hari.

“Warung-warung dengan atap terpal dan bertiang kayu mulai menunjukan pesonanya sehabis Adzan Magrib berkumandang, sedangkan untuk warung yang sudah permanen atau di ruko bisa buka dari sore hari,”kata ibu berambut ikal.

“Pelayan disini rata-rata perempuan, walaupun perempuan dan bekerja dimalam hari bukan berarti mereka perempuan tidak baik, memang dari dulu waktu masih berjualan di area Stasiun Kereta Api pelayan nasi uduk selalu perempuan,”Imbuhnya.

“Inilah yang menjadikan tempat ini begitu menarik dan membuat penasaran para pecinta kuliner, tidak sedikit dari mereka mengajak teman pecintah kuliner lainya untuk mampir dan menikmati nasi uduk di malam hari,”tukas rusmina.

“Beras yang di masak dengan menggunakan santan dan rempah asli indonesia membuat cita rasa yang khas disetiap sendoknya, campuran nasi yang di taburi bawang goreng dan ikan teri sangat menggugah selerah apalagi di padukan dengan kerupuk dan sambal tempe membuat nasi uduk ini menjadi primadona di malam hari,”tambah ibu rusmina.

Sedikit bagian dari lauk pauk pendamping santap nasi uduk

Karena tempatnya yang dekat dengan pusat kota nasi uduk ini juga menjadi menu andalan bagi segelintir masyarakat lokal. Tidak hanya itu pelanggan juga ada yang datang dari luar kota sengaja mampir untuk mengisi perut yang kosong sebelum melanjutkan perjalanan.

“Ditempat lain mungkin ada hal serupa seperti ini, tapi tidak sebanyak yang ada di Kota Prabumulih. Setiap kali melewati kota Prabumulih kami sengaja mampir makan nasi uduk sebelum melanjutkan perjalanan,”ungkap fahri seorang supir travel.

Selanjutnya Santi (23) salah satu pelayan di warung itu memberitahukan harga dari seporsi nasi uduk kepada kami sembari memainkan smartphone nya.

“Tak perlu takut untuk masalah harga sepiring nasi uduk kita jual dengan harga Rp 6000 rupiah sedangkan untuk harga lauk berpariasi sesuai dengan pilihan lauknya,”ungkap santi.

Adapun menu pendamping yang di tawarkan santi seperti telur asin, ikan, sate kerang, sate telur puyu, telur dadar, bermacam olahan ayam dan ikan serta beberpa minuman seperti bandrek, kopi, teh hangat.

Duduk santai diatas kursi kayu berwarna coklat menikmati segelas bandrek hangat dengan gaya kaki diangkat sebelah, sesekali kepulan asap rokok melayang layang menutupi cahaya lampu berwarna kuning.

Hadirnya sekelompok musisi jalanan yang mencoba menghibur setiap pembeli di warung-warung seakan membuat suasana malam semakin menjadi lebih tradisional. Dentingan gitar dan ketukan jimbe bersatu padu mengiringi suara sang vokalis yang serak.

“Kami hadir disini suda sepakat untuk menawarkan kebahagian, berharap sedikit keiklasan rezeki dari kalian semua yang iklas kalian memberi halal kami meneriamnya, “ucap sang vokalis yang bersuara serak sambil sesekali melirik ke arah kantong pembeli nasi.

Bising suara mesin sesekali hadir memberhentikan obrolan asik si pembeli di dalam warung nasi, mereka tetap terlihat enjoy menanggapi itu semua mungkin sudah terbiasa dengan bisingnya knalpot sehingga tidak ada satupun raut kemarahan yang ditunjukan dari mereka.

Sementara itu Handoko seorang pegawai swasta saat ditemui menerangkan kepada awak media bahwa nasi uduk menjadi makanan favorit disaat pulang sehabia kerja.

“Menjadi penawar penat setelah seharian menjalani aktivitas dengan ragam kegiatan yang melelahkan disetiap jam nya, untuk itu nasi uduk hadir meredupkan penat setelah seharian menjalani kesibukan di Bumi Seinggok Sepemunyian,”katanya.

“Mampirlah ke Prabumulih kota kecil dengan sejuta cerita, kota yang banyak menawarkan kenangan indah dan tidak akan lekang dimakan waktu, ingat Prabumulih ingat Nasi Uduk,”pungkasnya.(E09)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*